Goal Line Technology, Wasit Kedua Dalam Sepakbola

Dalam Sepakbola teknologi garis gawang (Goal Line Technology) memang digadang-gadang mampu mengurangi keputusan wasit yang terkadang dinilai kontroversi dalam sebuah Goal.

Teknologi GLT memiliki fungsi untuk membantu wasit dan hakim garis dalam menentukan keputusan apakah tendangan yang menuju arah gawang sudah melewati garis atau belum dan bisa dinyatakan Goal atau tidak.

Goal Line Technology bisa melihat dan merekam apakah bola itu benar-benar sudah melewati garis gawang atau memang belum.

Dalam pemanfaatan teknologi Goal Line Technology (GLT) memang memiliki beberapa unsur pendukung perangkat yang bisa dibilang tidak bisa terpisahkan dan saling terintegrasikan, ada 3 perangkat mulai dari Smart Ball System, Hawkeye System, Smart Ref System.

Ketiga komponen ini harus ada, ketika dari salah satu perangkat tidak ada maka tidak bisa difungsikan sebagai mana tujuanya penggunaan Goal Line Technology.

Mungkin teknologi ini bisa dibilang memiliki pembiayaan yang besar dalam pemasanganya, dana dengan nilai 250 ribu pound untuk memasang instalasi sekitar 12 hingga 14 kamera Hawk Eye dimana biasanya membutuhkan sekitar 6 hingga 7 kamera Hawk Eye hanya untuk 1 gawang saja.

Bisa dibayangkan satu stadion memiliki 2 gawang dan club sepak bola harus merogoh kocek yang tidak sedikit dalam pemasangan technology ini.

Namun dari pantauan sampai tahun 2018 hanya Kompetisi La Liga yang belum menggunakan Technology ini, Liga Italia, Premier League, Ligue 1, Bundesliga sudah menggunkan technology garis gawang.

Presiden otoritas Liga Spanyol, Javier Tebas, mengaku kalau goal line technology terlalu mahal untuk dipakai. Karenanya La Liga memilih untuk menggunakan teknologi video rekaman (VAR) pada musim 2018/2019.

Teknologi Goal Line Technology pertama kalinya dipergunakan pada perhelatan Piala Dunia 2014 di Brasil.

Tujuan penggunaan teknologi tersebut yakni untuk memberikan rasa adil di saat pertandingan dimulai dan juga memperkecil kerusuhan antara supporter yang tak menerima hasil laga pada akhirnya.

Salah satu contoh ketika kejadian gol hantu dari Frank lampard pada perhelatan Piala Dunia 2010 dan sempat membuat kontroversi di perhelatan 2010.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *