Menanti Dieng Culture Festival 2018

Dieng Culture Festival 2018 menjadi karnaval seni dan budaya yang ditungu-tunggu di tahun ini. Dieng Culture Festival (DFC) diadakan di Wonosobo, tepatnya di dataran tinggi Dieng untuk merayakan ruwat rambut gimbal. Acara ini diadakan setiap tahun dan terdapat banyak kegiatan yang dapat diiikuti oleh pengunjung.

Di tahun 2018 ini Dieng Culture Festival memasuki tahun ke-8. Selain ruwat rambut gimbal, para karnaval nantinya juga akan menampilkan kesenian tradisional dan budaya. Beragam acara menarik yang dapat diikuti oleh pengunjung yang hadir adalah festival dolanan anak, pagelaran wayang kulit, festival desa witasa di Jawa Tengah, pemeran kerajinan lokal Jawa Tengah, menikati musik Jazz, penghijauan, pesta kembang api, dan lampion, dan inti acaranya adalah ruwatan rambut gimbal.

Biasanya rangkaian acara berlangsung selama 3 hari 2 malam dimulai dari tanggal 2-6 Agustus. Para pengunjung yang akan hadir dapat membeli tiket terusan. Tiket tersebut dapat digunakan untuk mengikuti semua jalannya acara. Mengingat ada batasan pengunjung maka dibutuhkan tiket untuk masuk ke area acara.

Pengunjung yang membeli tiket terusan akan mendapatkan ID card, T-shirt, free pass untuk beberapa temapt wisata, dan akomodasi lainnya saat berada di Dieng Culture Festival. Akomodasi yang didapat biasanya berbeda-beda tergantung kesepakatan dengan penjual. Biasanya ada beberapa orang yang menawarkan paket tiket sekaligus penginapan. Harga tiket tersebut tentu lebih mahal dibanding Anda hanya membeli tiket terusan saja.

Hampir setiap tahun Dieng Culture Festival selalu dipenuhi pengunjung. Bahkan tiket yang disediakan panitia selalu habis terjual. Pengunjung berasal dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, dan sebagainya. Umumnya, peserta datang secara berombongan.

Banyak dari mereka yang penasaran dengan ruwat rambut gimbal, yakni sebuah ritual pemotongan anak berambut gimbal di Dataran Tinggi Dieng. Menurut masyarakat lokal, anak berambut gimbal tersebut adalah anak bajang titisan Eyang Agung Kaladate dan Nini Ronce yang merupakan leluruh warga suku Dieng. Karena dianggap bukan keturunan sembarangan maka untuk memotongnya tidak boleh asal.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *