Mengenal Suku Baduy Lebih Dekat

Suku Baduy banyak ditemukan di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Suku ini merupakan suku dengan etnis sunda yang masih mempertahankan budayanya hingga saat ini. Suku baduy tidak terpengaruh dengan pekembangan teknologi dan globalisasi. Suku ini identik jauh dari dunia luar dan hanya mengedepankan budaya yang turun temurun.

Lantas bagaimana kehidupan dari suku baduy?

Saat ini suku baduy sudah banyak mendapatkan perhatian dari pemerintah. Ini terbukti dari masyarakat suku baduy yang saat ini sudah memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP). Selain itu, pemerintah juga telah membangun berbagai fasilitas sebagai sarana penunjang pendidikan suku baduy.

Suku baduy hingga saat ini memang menarik untuk dikunjungi. Jika menuju ke wilayah suku baduy, maka tidak akan ditemukan listrik, elektronik, maupun internet. Pakaian yang dikenakan juga sangat khas dan perlu diketahui bahwa suku baduy terbai menjadi dua, yakni baduy dalam dan baduy luar. Baik baduy dalam maupun baduy luar memiliki pakaian khas masing-masing.

Baduy dalam biasanya mengenaiakan baju berwarna putih dengan celana hitam, kemudian mengenakan kain di kepala berwarna putih. Sementara baduy luar adalah mengenakan baju dan celana berwarna hitam dengan kain kepala berwarna putih.

Suku baduy tidak mengenakan alas kaki, baik sandal maupun sepatu. Setiap mencari makan atau beraktfitas mereka tetap tidak mengenakan alas kaki dan hal ini sudah dilakukan secara turun temurun sejak dahulu.

Terdapat tradisi unik yang masih dipegang teguh suku baduy, yakni tradisi seba. Ini merupakan upacara persembahan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa atas rezeki dari hasil tanaman pangan selama setahun. Dalam tradisi ini suku baduy datang ke Kota Rangkasbitung untuk merayakannya di Pendopo Pemerintahan Kabupaten Lebak sambil membawa hasil panen. Untuk menuju ke Pendopo Kabupaten juga mereka berjalan kaki. Padahal jarak dari pedalaman suku baduy ke Kabupaten sekitar 80 km.

Untuk menuju ke suatu tempat, suku baduy memang tidak pernah menggunakan kendaraan umum. Bukan hanya tidak ada, hal tersebut memang sudah dilakukan secara turun temurun sejak zaman dahulu.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *